Rabu, 18 Agustus 2021

Memulai Hari Sebagai Pemimpin!

 Apasih Sebenarnya Definisi Pemimpin?

Menurut John C. Maxwell, sebenarnya setiap orang masing-masing dapat memengaruhi dan juga dipengaruhi orang lain. Artinya, pada setiap kita pasti memiliki potensi untuk memengaruhi orang lain. Namun semua balik lagi ke diri kita sendiri, seberapa banyak kita mampu memengaruhi orang lain atau seberapa besar kepemimpinan kita dapat teruji? Kemampuan memengaruhi orang lain pun belum tentu dibilang sebagai jiwa kepemimpinan apabila orang-orang yang kita pimpin ternyata merasa keberatan dan terpaksa. Seperti pesan Maxwell,

“Kepemimpinan yang sesungguhnya lebih dari hanya memiliki wewenang tetapi menjadi orang yang diikuti orang lain dengan senang hati dan penuh keyakinan (Maxwell.1995:5)”.

Bisa tidak ya aku menjadi pemimpin/bisa tidak ya aku menggerakkan organisasi?

Terkadang keraguan dan ketakutan bukan untuk dihindari tapi untuk diterima dan dicari solusinya. John C Maxwell pun pernah berpesan bahwa pemimpin yang sukses adalah orang yang belajar, di mana proses belajarnya berkelanjutan, sebagai hasil dari disiplin pribadi dan ketekunan. Jadi semua keraguan dan ketakutan adalah kesatuan tantangan yang mana ketika kita berhasil melewatinya, maka kapasitas kita akan naik tingkat.

Bagaimana cara memulainya?

Memulai dengan mengenal diri sendiri

Sebagaimana perkataan Yahya bin Muadz ar-Razi yang dikutp dalam karya Imam al-Ghazali, “Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya”. Betapa pentingnya konsep mengenal diri sendiri untuk kehidupan kita.

Setelah kita memahami diri sendiri, dan sudah memaknai tujuan hidup seperti apa yang ingin dicapai. Langkah selanjutnya adalah mendesain life plan sebagai bentuk upaya kita mencapai target. Alangkah lebih baik, apabila life plan yang kita punya tidak hanya untuk kejayaan diri sendiri, namun juga untuk menebar manfaat ke sekeliling.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Langkah selanjutnya adalah mencari lingkungan yang mendukung. Sangat beruntung sekali ketika kita mendapatkan lingkungan yang dapat menciptakan atmosfer yang baik. Lingkungan yang akan mengingatkan kita ketika lemah dan lingkungan yang akan mendukung ketika kita membutuhkannya. Termasuk lingkungan yang akan menjaga diri kita agar tetap konsisten terhadap kebaikan. Hingga kita lulus dalam “ujian kepemimpinan diri”.

Dari sini kita bisa belajar banyak, bahwa hal yang paling penting dan paling utama untuk dipimpin adalah diri kita sendiri! Yuk, kita mulai mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masa depan!

Rabu, 28 Juli 2021

Pentingnya Kesadaran Diri

Kesadaran. Saya kira itu hal pertama yang membedakan seorang penyelam dengan seorang yang tenggelam. Jika seorang yang menyelam disebut 'sadar',  maka yang tenggelam bisa disebut 'lalai'.

Kesadaran membuat kita bisa mempersiapkan diri dan perangkat-perangkat untuk menyelami lautan kehidupan ini. Kesadaran adalah anugerah agar kita bisa memilih yang terbaik diantara alat-alat itu, seoptimal kemampuan kita. 

Kesadaran membuat mata kita terbuka, tubuh lincah bergerak kian kemari, dan semua indera peka untuk merasakan berbagai keindahan hidup ketika mereka yang tenggelam hanya mengutuk, mengumpat, gelagapan, dan kembung kesakitan dalam lautan nikmat Tuhan. 

Muncul pertanyaan, mengapa manusia bisa beriman, beribadah, bersyukur, dan bersabar? Salah satu jawaban termudah adalah karena dia sadar, karena dia tidak lalai. 

Suatu bentuk ketidaksadaran, diantara kita mungkin pernah menghadiri shalat berjama'ah, ikut takbiratul ikhram bersama imam, dan tiba-tiba kita sadar, "Wah sudah salam toh?" jasad kita teronggok berjengkang-jengking di Masjid itu, tapi hati kita entah dimana.

Ketidaksadaran juga, dalam kuliah, ketika kita baru kemaren berkenalan dengan dosen di pertemuan pertama, dan kenyataannya esok hari sudah ujian semester, ketidaksadaran! 

Parahnya jika ketidaksadaran itu cukup panjang, padahal hidup ini pendek dan berujung pada kehadiran malaikat maut.

Saat itu tak ada lagi yang sempat tersadar, "Lho kok jatah hidup saya sudah habis?" 

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sederhananya, sadarlah! 

Di lautan nikmat, dua makhluk berpisah,      

Yang satu tenggelam, yang satu menyelam.

Kau tahu apa bedanya? 

Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia Allah Ta'ala untuk mengabdi padaNya. 

Sadar bahwa kita seorang Muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. 

Sadar bahwa kita seorang mujahid, memantapkan langkah kita di jalan para pejuang. Sadarlah! 

Senin, 07 Juni 2021

Bukan Hidup yang Sekali, Tapi Mati yang Sekali!

Dalam riwayat Bukhari disebutkan,

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”

Kematian memang ditakdirkan menjadi sebuah misteri. Hikmahnya, tidak ada alasan untuk tidak memastikan setiap detik yang kita lakukan adalah amal yang terbaik. Karena bisa jadi detik tertentu adalah garis batas kehidupan kita dan kita ingin menjadi yang terbaik saat batas hidup sudah mencapai akhir. 

Tugas kita sebagai hamba hanyalah satu, istiqamah. Kita harus memastikan betul di awal dalam niat, di tengah dalam amal, dan di akhir dalam ikhtiar, semua terjaga dalam koridor. Kita juga harus meluruskan niat, karena niat itu bisa saja lurus di awal, belok di tengah. Bisa lurus di awal, lurus di tengah, jungkir balik di akhir. 

Kita gak dinilai dari bagaimana kita dimulai, tapi kita dinilai bagaimana kita berakhir. Agar kita terus mengingat bahwasanya ada akhir yang perlu disiapkan, akhir ini gak tau kapan datangnya. Tentunya kita ingin akhirnya dalam akhir yang baik.

Rabu, 02 Juni 2021

Bersyukur, Menggapai Lebih Tinggi

 "Hatiku penuh dengan kata-kata, karena itu tak kuucapkan sepatah pun suara", begitu syair Jalaluddin Ar Rumi.

Bersyukur mengajarkan kita untuk tak berpuas hati dalam meminta pada Ilahi. Terus dan terus, lagi dan lagi, lebih banyak dan lebih tinggi. 

Terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat. Maka bersyukur bukanlah berpuas. 

Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. 

Yang berharta, jangan berpuas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, jangan berpuas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas,  jangan berpuas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah, berlarilah! 

Selasa, 01 Juni 2021

Sergapan Rasa Memiliki

     Sergapan rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kalau kata orang Jawa, "Melik nggendhong lali". Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karunia-Nya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

     Sejak awal kita mengikrarkan bahwasanya kita milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya. Itu saja. Sudah begitu besar karunia Allah, bahwa kita ditakdirkan bersama. Atau pernah bersama. 

Jumat, 21 Februari 2020

Syair Abu Nawas - Al-I’tiraf ( Sebuah Pengakuan)

إِلٰـهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً- وَلاَ أَقْوٰى عَلَى نَارِ الْجَحِيْم
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku juga tak kuat di neraka Jahim.

فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي – فَإنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادٍ الرِّمَالِ – فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالْجَلاَلِ
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang mempunyai keagungan.

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ – وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

إِلٰـهِي عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ – مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاك
Wahai, Tuhanku ! Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada-Mu.

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ – فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Maka bila engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni,
bila Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Silahkan di share.
Semoga bermanfaat.

Petuah Syaikh Thanthawi

Ditulis oleh : Syaikh Thanthawi (Syaikh Besar Universitas Al-Azhar)

ﻛُﻠُّﻨَﺎ ﺍَﺷْﺨَﺎﺹٌ ﻋَﺎﺩِﻱٌّ ﻓِﻰ ﻧَﻈْﺮِ ﻣَﻦْ ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻨَﺎ
Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

ﻭَﻛُﻠُّﻨَﺎ ﺍَﺷْﺨَﺎﺹٌ ﺭَﺍﺋِﻌُﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﻧَﻈْﺮِ ﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻬَﻤُﻨَﺎ
Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

، ﻭَﻛُﻠُّﻨَﺎ ﺍَﺷْﺨَﺎﺹٌ ﻣُﻤَﻴِّﺰُﻭْﻥَ ﻓِﻰ ﻧَﻈْﺮِ ﻣَﻦْ ﻳُﺤِﺒُّﻨَﺎ
Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

ﻭَﻛُﻠُّﻨَﺎ ﺍَﺷْﺨَﺎﺹٌ ﻣَﻐْﺮُﻭْﺭُﻭْﻥَ ﻓِﻰ ﻧَﻈْﺮِ ﻣَﻦْ ﻳَﺤْﺴُﺪُﻧَﺎ
Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian.

، ﻭَﻛُﻠُّﻨَﺎ ﺍَﺷْﺨَﺎﺹٌ ﺳَﻴِّﺌُﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﻧَﻈْﺮِ ﻣَﻦْ ﻳَﺤْﻘِﺪُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ
Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri.

، ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﺨْﺺٍ ﻧَﻈْﺮَﺗُﻪُ، ﻓَﻼَ ﺗَﺘْﻌَﺐْ ﻧَﻔْﺴَﻚَ ﻟِﺘُﺤْﺴِﻦَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻵﺧَﺮِﻳْﻦَ
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah lelah agar tampak baik di mata orang lain.

، ﻳَﻜْﻔِﻴْﻚَ ﺭِﺿَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻨْﻚَ ، ﺭِﺿَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻏَﺎﻳَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺪْﺭَﻙ
Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai.

، ﻭَﺭِﺿَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻏَﺎﻳَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺘْﺮَﻙ ، ﻓَﺎﺗْﺮُﻙْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳُﺪْﺭَﻙْ ، ﻭَﺍَﺩْﺭِﻙْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳُﺘْﺮَﻙْ
Sedangkan ridha Allah, destinasi yang pasti sampai. Maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah.

Silahkan di share.
Semoga bermanfaat .

Memulai Hari Sebagai Pemimpin!

 Apasih Sebenarnya Definisi Pemimpin? Menurut John C. Maxwell, sebenarnya setiap orang masing-masing dapat memengaruhi dan juga dipengaruhi ...