Sergapan rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kalau kata orang Jawa, "Melik nggendhong lali". Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karunia-Nya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.
Sejak awal kita mengikrarkan bahwasanya kita milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya. Itu saja. Sudah begitu besar karunia Allah, bahwa kita ditakdirkan bersama. Atau pernah bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar