Senin, 07 Juni 2021

Bukan Hidup yang Sekali, Tapi Mati yang Sekali!

Dalam riwayat Bukhari disebutkan,

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”

Kematian memang ditakdirkan menjadi sebuah misteri. Hikmahnya, tidak ada alasan untuk tidak memastikan setiap detik yang kita lakukan adalah amal yang terbaik. Karena bisa jadi detik tertentu adalah garis batas kehidupan kita dan kita ingin menjadi yang terbaik saat batas hidup sudah mencapai akhir. 

Tugas kita sebagai hamba hanyalah satu, istiqamah. Kita harus memastikan betul di awal dalam niat, di tengah dalam amal, dan di akhir dalam ikhtiar, semua terjaga dalam koridor. Kita juga harus meluruskan niat, karena niat itu bisa saja lurus di awal, belok di tengah. Bisa lurus di awal, lurus di tengah, jungkir balik di akhir. 

Kita gak dinilai dari bagaimana kita dimulai, tapi kita dinilai bagaimana kita berakhir. Agar kita terus mengingat bahwasanya ada akhir yang perlu disiapkan, akhir ini gak tau kapan datangnya. Tentunya kita ingin akhirnya dalam akhir yang baik.

Rabu, 02 Juni 2021

Bersyukur, Menggapai Lebih Tinggi

 "Hatiku penuh dengan kata-kata, karena itu tak kuucapkan sepatah pun suara", begitu syair Jalaluddin Ar Rumi.

Bersyukur mengajarkan kita untuk tak berpuas hati dalam meminta pada Ilahi. Terus dan terus, lagi dan lagi, lebih banyak dan lebih tinggi. 

Terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat. Maka bersyukur bukanlah berpuas. 

Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. 

Yang berharta, jangan berpuas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, jangan berpuas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas,  jangan berpuas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah, berlarilah! 

Selasa, 01 Juni 2021

Sergapan Rasa Memiliki

     Sergapan rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kalau kata orang Jawa, "Melik nggendhong lali". Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karunia-Nya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

     Sejak awal kita mengikrarkan bahwasanya kita milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya. Itu saja. Sudah begitu besar karunia Allah, bahwa kita ditakdirkan bersama. Atau pernah bersama. 

Memulai Hari Sebagai Pemimpin!

 Apasih Sebenarnya Definisi Pemimpin? Menurut John C. Maxwell, sebenarnya setiap orang masing-masing dapat memengaruhi dan juga dipengaruhi ...